Dewan Kota Surabaya

Mei 23, 2008

Problematika Demografi di Daerah Urban

Filed under: Tak Berkategori — dewankotasurabaya @ 5:04 am

Refleksi dan penyelesaian masalah kependudukan di Kota Surabaya

Tidak bermaksud untuk membangkitkan lagi Malthusianism, tapi setidaknya inilah yang terjadi di masa kekinian dimana ketersediaan pangan tidak berbanding lurus dengan pertambahan penduduk. Secara aklamasi public akan membenarkan bahwa jumlah penduduk Surabaya 10 tahun yang lalu pastilah lebih sedikit dari pada sekarang. Konsekuensi logis dari meledaknya jumlah penduduk adalah merebaknya masalah social lain seperti kejahatan dan penyakit social. Oleh karena itu uraian singkat ini mencoba memberikan pesan singkat tentang pentingnya factor demografi dalam kajian tentang Surabaya secara utuh.

Beberapa hal yang menjadi factor penarik dan pendorong meningkatnya jumlah penduduk di Surabaya adalah misalnya kurangnya lapangan pekerjaan di desa, iming-iming akan indahnya kota besar dengan segala kemewahan kapitalisnya, kesempatan yang lebih luas, akses pendidikan tinggi dsb. Semua bermuara pada terkonsentrasinya komunitas masyarakat di pinggiran kota karena semakin menipisnya lahan di tengah kota karena mahal.

Adalah rasional apabila upaya pengurangan atau penekanan pertumbuhan penduduk segera diupayakan secara dini. Dalam hal ini dibutuhkan gambaran konseptual dan langkah konkrit untuk mengatasi hal ini. Secara konseptual dapat dilihat sebagai berikut:

1. Pendataan jumlah penduduk

Upaya ini adalah upaya untuk mengetahui jenjang disparitas jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Untuk memudahkan pendataan, upaya yang bisa dilakukan adalah membuat KKP (Kartu Kendali Penduduk). Kartu ini akan berfungsi sebagai tanda (selain Kartu Keluarga) bahwa keluarga yang bersangkutan akan “diawasi” oleh pemerintah daerah. Kartu sakti ini akan berupa kartu yang menggunakan “barcode” dan terintegrasi dengan system informasi dengan lingkup jangkauan seluruh wilayah kerja pemkot Surabaya. Pendataan ini melibatkan unsur kelurahan, pemangku kepentingan dan pemerintah kota.

2. Pola insentif dan dis-insentif

Berpaling pada Singapore dalam mengendalikan jumlah penduduk, maka system ini berfungsi untuk memberikan insentif berupa pengurangan biaya kesehatan, biaya pendidikan atau mendapatkan layanan gratis apabila bisa mempertahankan jumlah keluarga. Dan juga sebaliknya, dis-insentif diberikan kepada kelurga yang jumlah anggotanya bertambah melebihi yang dianjurkan. Karena sudah massive nya jumlah keluarga yang beranggotakan banyak orang maka penggunaan system ini bisa diberlakukan kepada setiap pasangan yang baru menikah (bekerja sama dengan KUA dan kelurahan setempat)

3. Sosialisasi Melekat

Bentuk konsepnya adalah peingkatan mutu pemhaman masyarakat tentang pentingnya pengendalian jumlah penduduk dan upaya-upaya teknis untuk melakukannya. Bentuk jelas nya adalah pemberian pembekalan berupa training atau seminar kepada calon pasangan muda. Atau juga bisa ditambahkan bentuk sosialisasi oleh kyai kampung atau juga pemuka agama untuk menjelaskan betapa pentingnya program yang dimaksud.

Pengejawantahan hal-hal diatas perlu didukung penuh dengan payung hukum yang sesuai Dan komprehensif tentang hal demografi diatas. Juga perlu dukungan dari SKPD teknis yang nantinya terlibat aktif dalam program ini.

Sebagai epilog dari tulisan ini adalah sebuah pengingatan kembali tentang perlunya upaya dan kegiatan serius dalam mengatasi problematika demografis ini. Setidaknya dengan pemberlakuan program dan upaya-upaya konkrit tersebut diatas maka akan secara tidak langsung memutus mata rantai masalah social akut dewasa ini di daerah urban.

Anggun Susilo M.Idea (Staf OSS Center Indonesia)

Maret 3, 2008

Pojok Kreatif : Sarana Alternatif Untuk Menggali Potensi Kaum Muda Surabaya

Filed under: berita — dewankotasurabaya @ 3:40 am

Pendidikan adalah sebuah proses terus menerus yang selalu akan dilakukan seumur hidup manusia. Karena sifatnya yang terus menerus itulah, selayaknya pendidikan tidak hanya dilakukan secara formal melalui sekolah atau universitas, tetapi juga dilakukan oleh orang tua, keluarga, lingkungan, dan masyarakat untuk anak-anaknyanya. Bagaimana jika ternyata pendidikan yang diberikan di luar sekolah ternyata tidak cukup berkualitas sementara pendidikan formal ternyata juga sangat mahal ? 

Dalam jaman yang semakin ketat persaingannya seperti saat ini, tuntutan terhadap anak-anak dan kaum muda akan semakin tinggi. Bukan hanya pada tingkat pendidikan, tetapi juga kemampuan kompetensi yang akhirnya harus dimiliki oleh mereka untuk dapat mengakses jenis lapangan kerja yang tersedia, disamping juga peluang dalam membuka sebuah usaha sendiri.

Di sisi lain, keberadaan sumber daya Kota Surabaya yang cukup kaya ini sebenarnya punya potensi untuk dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan informal, seperti taman-taman kota, fasilitas umum, aset pemerintah kota berupa bangunan dan gedung, dll. Sayangnya ternyata belum banyak potensi sumber daya ini yang mampu dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan anak-anak dan kaum muda di Surabaya.

Pemanfaatan lahan atau bangunan aset pemerintah selayaknya juga mengedepankan aspek pendidikan (minimal 20 %), sehingga tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi misalnya untuk peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Untuk peningkatan pendidikan semacam apakah sarana atau lahan tersebut digunakan?

Diskusi yang digalang oleh teman-teman yang tergabung dalam Dewan Kota Surabaya beberapa waktu lalu cukup menarik untuk disimak. Bahwa ternyata selama ini kaum muda Surabaya belum mempunyai sarana yang cukup memadai dalam upaya menyalurkan potensi dan kreativitas mereka. Ajang-ajang untuk menunjukkan kebolehan kaum muda masih terbatas, khususnya bagi mereka dari kelompok masyarakat kurang mampu. Maka muncullah ide untuk perlunya membuat pojok-pojok kreatif (creative corners – CC) di beberapa sudut kota Surabaya dengan memanfaatkan aset yang dimiliki oleh Pemkot Surabaya atau masyarakat yang merasa tergugah untuk mendukung terwujudnya ide ini.

Bagaimanakah konsep CC tersebut ? Sebenarnya boleh dikatakan kalau CC adalah sarana pendidikan alternatif yang dapat dipergunakan oleh seluruh kalangan masyarakat khususnya kaum mudanya untuk menyalurkan potensi dan kreativitasnya di luar lingkungan sekolah dan universitas (pendidikan formal). Sebenarnya ada banyak sekali kegiatan ekstra kulikuler yang saat ini dikembangkan oleh sekolah atau kegiatan ekstra kampus yang dilakukan melalui unit kegiatan mahasiswa yang bisa dijadikan sarana menambah pengalaman dan pengetahun kaum muda disamping pendidikan formal yang dijalaninya. Akan tetapi, ternyata beragamnya kegiatan ekstra kulikuler sekolah atau ekstra kampus tersebut ternyata belum dapat diselenggarakan oleh semua sekolah atau universitas. Hanya sekolah favorit dan cenderung berbiaya mahal-lah yang mampu menyediakan sarana ekstra kulikuler, demikian pula hanya dengan universitas. Di samping itu, kalaupun sarana kegiatan ekstra kurikuler itu telah tersedia, ternyata belum sepenuhnya dapat diakses oleh pelajar atau mahasiswa karena biasanya mereka harus membayar untuk dapat mengikuti kegiatan-kgiatan tersebut. Sehingga akan makin sulitlah bagi mereka yang berasal dari golongan kurang mampu dan atau yang putus sekolah untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus menyalurkan potensi dan kreativitasnya, baik lewat sekolah maupun di luar sekolah.

Dewan Kota Surabaya memandang pojok-pojok kreatif itulah yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan kelompok muda yang haus akan sarana pendidikan yang kurang memadai atau kurang mampu untuk diaksesnya. Tentu tidak mudah mewujudkan ide ini. Perlu pemahaman dan komitmen dari banyak pihak khususnya Pemkot Surabaya untuk dapat menyediakan sarana yang dibutuhkan dan model pengelolaan yang memadai agar CC ini mampu menjadi ajang kreativitas dan penemuan sekaligus pengasahan atas potensi yang dimiliki oleh kaum muda Surabaya. Tentu diharapakan Pemkot Surabaya tidak bekerja sendiri. Kami yakin jika konsep yang ditawarkan menarik, dengan dampak yang luar biasa nantinya atas penemuan bakat-bakat terpendam kaum muda Surabaya di bidang seni (musik, lukis, patung, vokal, tari, teater), bisnis (melalui pameran, pengelolaan café, penyewaan buku bacaan, penyediaan warung internet, dsb), mengasah intelektual (adanya perpustakaan, ajang diskusi, lomba karya ilmiah) atau juga penyelenggaraan workshop-workshop handicraft (seperti membatik, membuat keramik, atau membuat jenis handicraft lainnya) yang kalaupun ada biayanya akan diupayakan semurah mungkin, maka akan banyak sekali perusahaan besar atau kelompok masyarakat yang tertarik untuk membantu mewujudkan ide ini.

Salah satu tempat yang mungkin bisa dijadikan ajang uji coba adanya CC ini adalah beberapa aset Pemkot Surabaya yang selama ini sudah sering dipakai untuk kegiatan seni oleh masyarakat umum seperti Balai Pemuda Surabaya, Gedung Cak Durasim, Kebun Bibit atau Taman Bungkul. Di sisi lain, sangat menarik jika ide memperbanyak perpustakaan (dalam Raperda Perpustakaan) yang diharapkan mampu mendorong masyarakat Surabaya untuk gemar membaca dengan penyediaan sarana perpustakaan di sudut kota Surabaya ini diwujudkan, karena modal utama untuk mengumpulkan kaum muda Surabaya adalah dengan menyediakan fasilitas yang memadai, murah dan mudah untuk diakses. Adanya perpustakaan di Balai Pemuda Surabaya (yang berada di tengah kota) bisa dijadikan pijakan awal untuk menyediakan sarana lain bagi kaum muda di Surabaya (penyediaan warnet, café, penyediaan peralatan band, dll) yang tentu saja harus di-set up secara terus menerus dan konsep pengelolaan (juga pemeliharaan) yang jelas, yang nantinya diharapkan tidak hanya ramai pada saat-saat tertentu misalnya saat penyelenggaraan Festival Seni Surabaya (FSS) atau pameran handicraft. Ajang pameran kreativitas dan penyediaan sarana semacam ini hendaknya tidak berhenti hanya di pusat kota, tetapi juga diperbanyak di wilayah pinggiran karena tujuan utama adalah penyediaan pengetahuan dan pendidikan alternatif yang juga harus dapat dinikmati oleh kaum muda di kantong kemiskinan dan atau di pelosok Surabaya seperti di Kenjeran, Rungkut, Manukan, Dupak, Kebraon, dan wilayah lainnya.

Pojok-pojok kreatif ini juga sekaligus dijadikan sarana penyebaran kampanye anti narkoba atau anti seks bebas misalnya, dengan bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional yang concern pada isu yang sama. Dengan demikian tujuan penyediaan sarana alternatif atas pendidikan dan pengetahuan untuk kaum muda Surabaya dapat diraih, potensi positif akan tergali dan potensi negatif dapat diminimalisir.

Akankah ini hanya menjadi sebatas ide ? Sambutan dari berbagai pihak dan sumbangan konsep atas ide ini tentu sangat diharapkan agar menjadi lebih matang dan tentu yang paling penting adalah diwujudkan.

Early Rahmawati (Anggota Dewan Kota Surabaya)

 

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.